Sabtu, 07 Februari 2009

Kantong Semar

Genus Nepenthes (Kantong Semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk dalam familia monotypic, terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis. Kini, meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Republik Rakyat Cina bagian selatan, Malaysia, Filipina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Srilanka. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di Pulau Kalimantan dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 meter dengan cara memanjat tanaman lainnya. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat bermodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, dan anak kodok) yang masuk ke dalam.

Pesona Si Kantong Semar




Bagi kalangan pencinta tanaman, jenis ini merupakan pendatang baru yang sedang naik daun. Kantong Semar, sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Akan tetapi, masih banyak orang yang belum melihat secara lansung si tanaman karnivora. Nepenthes, pertama kali dikenalkan oleh J. P. Breyne. Nama Nephentes diambil dari sebuah nama gelas anggur. Di Indonesia, disebut sebagai kantong semar dengan sebutan beragam di berbagai daerah, periuk monyet (Riau), kantong beruk (Jambi), ketakung (Bangka), sorok raja mantri (Jawa Barat), ketupat napu (Dayak Katingan), telep ujung (Dayak Bakumpai), dan selo begongong (Dayak Tunjung).
   
Tumbuhan yang termasuk dalam golongan tumbuhan liana (merambat) ditanah ataupun di ranting-ranting pohon, berumah dua serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Hidup di tanah (terrestrial), ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain (epifit). Kantong Nepenthes merupakan perubahan bentuk dari ujung daun yang memiliki fungsi menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. Karenanya, tumbuhan ini digolongkan sebagai tanaman karnivora (carnivorous plant), selain Venus Flytrap (Dionaea muscipula), Sundews (Droseraceae), dan beberapa jenis lainnya. Tanaman karnivora umumnya hidup pada tanah miskin hara, khususnya nitrogen, seperti kawasan kerangas. 
 
Nepenthes termasuk dalam famili Nepenthaceae dan kelas Magnoliopsida pada umumnya tumbuh pada hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savanna, dan tepi danau. Nepenthes tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara hingga Cina bagian selatan. Terdapat sekitar 82 jenis nepenthes di dunia dan 64 jenisnya berada di Indonesia (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) dan merupakan pusat penyebaran Nepenthes di dunia. Sesuai dengan ketinggian tempat hidupnya, Nepenthes dibagi menjadi tiga golongan, yaitu yang hidup pada dataran rendah (0-500 mdpl), dataran menengah (500-1.000 mdpl), dan dataran tinggi (di atas 1.000 mdpl). Untuk di dataran rendah meliputi jenis N. gracilis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, dan N. raflesiana. N. adnata, N. clipeata, N. mapuluensis merupakan jenis yang dapat hidup di dataran menengah sedangkan yang dapat tumbuh baik di dataran tinggi meliputi N. diatas, N. densiflora, N. dubia, N. ephippiata, dan N. eymae. Perbanyakan tanaman Nepenthes dilakukan melalui stek batang, biji, dan memisahkan anakan. Umumnya, Nepenthes yang hidup terrestrial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air pada substrat yang bersifat asam. Nepenthes juga membutuhkan cahaya matahari intensif dengan panjang siang hari antara 10-12 jam setiap hari sepanjang tahun dengan suhu udara antara 23-31°C dan kelembaban udara antara 50-70%. 

Manfaat Kantong Semar

Selain sebagai tanaman hias, kantong semar juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting, di antaranya: 
Sebagai indikator iklim. Jika pada suatu kawasan atau areal di tumbuhi oleh Nepenthes gymnamphora, berarti kawasan tersebut tingkat curah hujannya cukup tinggi, kelembapan diatas 75 %, tanahnya pun miskin unsur hara.
Tumbuhan obat. Cairan dari kantong yang masih tertutup digunakan sebagai obat batuk.
Sumber air minum bagi petualang. Bagi para pendaki gunung yang kehausan, kantong semar jenis N. gymnamphora merupakan sumber air yang layak minum karena pH-nya netral (6-7), tetapi kantong yang masih tertutup karena kantong yang terbuka sudah terkontaminasi dengan jasad serangga yang masuk kedalam, pH-nya 3, dan rasanya masam.
Sebagai pengganti tali. Batang dari kantong semar ini bisa digunakan sebagai pengganti tali untuk pengikat barang.

Ancaman Si Kantong Semar 


Semua jenis Nepenthes adalah dilindungi. Akan tetapi, keberadaannya sekarang ini sudah semakin sedikit. Habitatnya yang semakin sempit baik itu dikarenakan aktivitas manusia secara langsung maupun maupun tidak langsung.
Ancaman terhadap si kantong semar:
Pembukaan kawasan tambang.
Pembukaan kawasan untuk tambak.
Eksploitasi jenis untuk dikomersilkan.

Mengapa Semut Tidak Dimangsa Kantong Semar?


Di dalam kantung tumbuhan kantong semar, Nepenthes bicalcarata, yang hidup di sebelah India Timur, hiduplah koloni semut. Tumbuhan ini bentuknya seperti teko dan memangsa serangga yang menghinggapinya. Meskipun demikian, semut bebas bergerak dan mengambil sisa-sisa serangga dan bahan makanan lainnya dari tumbuhan ini.

Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, semut dan tumbuhan. Meski semut mungkin saja dimakan Nepenthes, mereka dapat membangun sarang pada tumbuhan ini. Sang tumbuhan juga menyisakan jaringan tertentu dan sisa-sisa serangga untuk semut. Sebagai balasannya, semut melindungi tumbuhan dari musuhnya.

Begitulah contoh hubungan kehidupan antara tumbuhan dan semut. Bentuk anatomi dan fisiologi semut dan tumbuhan inangnya telah dirancang sedemikian rupa untuk memudahkan hubungan timbal balik antara keduanya. Meskipun para pembela teori evolusi menyatakan bahwa hubungan antarjenis makhluk hidup ini berkembang secara berangsur-angsur selama jutaan tahun, tetapi tentu saja pernyataan yang mengatakan bahwa dua makhluk yang tidak memiliki kecerdasan ini dapat sepakat merencanakan suatu sistem yang menguntungkan kedua belah pihak tidaklah masuk akal. Lalu, apa yang menyebabkan semut hidup pada tumbuhan?

Semut cenderung tinggal pada tumbuhan karena adanya cairan bernama “nektar tersisa” yang dikeluarkan tumbuhan. Cairan nektar ini merupakan daya tarik bagi semut untuk mendatangi tumbuhan. Banyak spesies tumbuhan yang terbukti mengeluarkan cairan ini pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pohon ceri hitam menghasilkan cairan ini hanya tiga minggu dalam setahun. Tentu pengeluaran cairan pada waktu ini bukan kebetulan karena waktu tiga minggu ini bertepatan dengan satu-satunya waktu sejenis ulat menyerang pohon ceri hitam. Semut yang tertarik pada nektar dapat membunuh ulat ini serta melindungi tumbuhan.

Pada gambar, kita dapat melihat tumbuhan kantong semar sebagai “perangkap serangga”. Namun, serangga-serangga tertentu lolos dari jebakan tumbuhan kantong semar. Misalnya, semut dapat hidup berdampingan dengan kantong semar. Secara ajaib, tumbuhan ini tidak mempedulikan keberadaan semut. 
Hanya dengan menggunakan akal sehat, kita dapat melihat bahwa hal ini adalah bukti hasil penciptaan. Akal sehat tidak mungkin bisa menerima bahwa pohon ini dapat memperhitungkan kapan bahaya akan menyerang lalu memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi dirinya adalah dengan cara menarik perhatian semut serta mengubah struktur kimianya. Pohon ceri tidak punya otak. Oleh karena itu, ia tidak dapat berpikir, memperhitungkan, maupun mengubah campuran kimianya. Bila kita menganggap bahwa cara cerdas ini adalah sifat yang diperoleh dari suatu kebetulan, yaitu dasar berpikir evolusi, tentu ini tidaklah masuk akal. Jelas sekali bahwa pohon ini telah melakukan sesuatu yang didasarkan pada kecerdasan dan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, satu-satunya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah bahwa sifat tumbuhan ini telah terbentuk karena adanya sebuah "kehendak" yang telah menciptakannya. Bila kita merujuk pada segala bentuk pengaturan yang dibuat-Nya, jelas sekali bahwa Dia tidak hanya berkuasa atas pohon, tetapi juga atas semut dan ulat. Jika penelitian dilakukan lebih jauh lagi, tentunya dapat diketahui bahwa Dia berkuasa atas semesta alam dan telah mengatur setiap bagian alam secara terpisah namun serasi dan selaras sehingga membentuk sebuah rangkaian sempurna yang kita kenal sebagai “keseimbangan ekologi”. Bila kita berpikir lebih jauh dan meneliti bidang-bidang lain, seperti geologi dan astronomi, kita akan sampai pada gambaran yang serupa. Ke mana pun kita melangkah, kita akan menyaksikan berjuta sistem yang berfungsi dengan selaras dan teratur sempurna. Semua sistem ini menunjukkan keberadaan Sang Pengatur. Meskipun demikian, tidak satu pun unsur pembentuk alam ini yang mampu berfungsi sebagai Sang Pengatur itu. Oleh karena itu, Sang Pengatur haruslah Dia Yang Mahatahu dan Mahakuasa atas alam semesta.

Berburu Kantong Semar
 
 
Biasanya, penggemar tanaman langka akan rela naik gunung ataupun masuk rawa-rawa demi tanaman yang diinginkannya. Ketika kru Tumbuh pada akhir tahun 2006 yang lalu ingin melihat tanaman kantong semar liar yang tumbuh di Gunung Slamet, tidak hanya materi saja yang harus dikeluarkan, namun juga tenaga dan tubuh fit menjadi prasyarat utama.
Namun, jangan heran ketika tren kantong semar mulai booming. Saat ini, di kota-kota besar justru tanaman ini mudah diburu. Mulai harga ribuan sampai jutaan ada. Tidak percaya?
 
Kantong Semar Seharga Rp 5000
Hari Minggu bagi warga kota Semarang adalah hari santai. Coba Anda silakan mampir ke Simpang Lima yang berada di jantung kota. Mulai dari adzan subuh sampai sekitar jam 9, disana akan ada kegiatan yang luar biasa, yaitu pasar terkomplit di seluruh kota. Mulai dari makanan, mainan anak, binatang, elektronik, kredit sepeda motor, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan tentunya, tanaman hias ala kaki lima. Jangan menganggap enteng tanaman kaki lima di kota Semarang ini. Ternyata kalau beruntung, Anda bisa menemukan tanaman kesayangan Anda ini. Contohnya, ketika kru Tumbuh mencari tanaman kantong semar, sungguh diluar dugaan! Disana juga tersedia lumayan banyak. Ada dua jenis kantong semar yang ditawarkan, yaitu jenis Nephentus andriani dan Gymnamphora. Selain itu, masih ada beberapa jenis yang lain, yang tentunya penjualnya sendiri juga tidak tahu apa jenis kantong semar tersebut.

Pandai Menawar
Bagi Anda yang ingin membelinya, tentu harus hati-hati karena kantong semar yang dijual kebanyakan adalah hasil cabutan langsung dari hutan-hutan di Jawa Tengah, seperti dari Gunung Slamet, Merapi, Ungaran, Tawangmangu, dan daerah lain. Anda pun dituntut pandai menawar. Rata-rata harga satu ikat kantong semar (terdiri sekitar 5 pohon) yang tertanam dalam pot dihargai Rp 5000 - 10.000. Tentunya setelah membeli tanaman harus disesuaikan dengan kondisi alam terlebih dahulu. Misalnya, ditaruh didaerah lembap (sekitar kamar mandi, kubangan air, dll). Kalau tidak, dijamin bakal mati kering.
Oke, silakan Anda datang sendiri ke Simpang Lima, Semarang di hari Minggu pagi.

Kantong Semar Banyak Terdapat di Taput


Tanaman langka kantung semar (Nepenthes sp) atau yang biasa disebut pemangsa yang manis, banyak terdapat di Cagar Alam Dolok Saut di Desa Raut Bosi, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara.

"Tanaman ini banyak dijumpai diatas permukaan laut dengan ketinggian mencapai 3.300 meter," kata pejabat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara II kepada wartawan di Medan, Selasa (1/05).

Kawasan cagar alam tersebut memiliki luas 39 hektar, jaraknya lebih kurang 300 km arah selatan Kota Medan. Dulunya, kawasan ini dikenal sebagai Tombak Pagar Besi (hutan berpagar besi) karena oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1924, kawasan hutan ini di pagar besi dan kawat berduri.

Tanaman kantung semar termasuk tumbuhan menjalar atau epifit yang dapat memanjat sampai ketinggian 18 meter ke atas pohon. Diatas ketinggian itu, tanaman tersebut mengeluarkan “daun khusus” yang disebut kantung semar yang di desain untuk menjebak mangsanya. Kantung semar bagai bunga pemikat serangga karena daun tanaman ini mengeluarkan madu pada pinggirannya hingga licin mirip bunga sejati. Serangga yang salah langkah tertarik oleh cairan manis akan tergelincir dan masuk kedalam cairan yang mengandung enzim pencerna protein.

Menurut data di Balai Konservasi itu, Kawasan Cagar Alam Dolok Saut merupakan kawasan dengan tipe vegetasi hutan hujan tropika. Daerah tersebut juga dijadikan sebagai tempat perlindungan beberapa jenis flora khas dan endemik dari jenis tumbuhan berdaun jarum, seperti Pinus Tapanuli (Pinus merkusii), Sampinur Bunga (Padacarpus imbricatus), dan Sampinur Tali (Dacrydium junghuhnii).

Berbagai jenis tumbuhan berdaun lebar juga terdapat di kawasan ini, seperti Kemenyan (Styrax sp), Hoting (Quercus sp), Suren (Toona surenI) dan Haundolik (Euginea Sp). Sedangkan jenis-jenis fauna yang hidup di kawasan cagar alam itu, antara lain Babi Hutan (Sus sp), Siamang (Hylobates sindactylus), Rusa (Cervus unicolor), dan Kambing Hutan (Capricornus sumatrensis), Trenggiling (Manis javanica), dan berjenis-jenis burung, seperti Enggang (Fam bucerotidae) dan Pergam (Dracula sp) juga hidup di cagar alam tersebut.

Sumber: Segala macam sumber